Agribisnis Info
     Informasi Terkini Agribisnis Indonesia

BRUCELLOSIS
(Resume : Waspadai Ancaman Brucellosis, drh Mordani Affan dalam Poultry 
Indonesia ed Nopember 2002)


Brucellosis merupakan penyakit yang banyak mendatangkan kerugian pada industri peternakan.
Kerugian ekonomi akibat Brucellosis diperkirakan oleh Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan
Departemen Peternakan mencapai Rp 10 miliar per tahun. Tergolong penyakit menular yang  primer
menyerang sapi, babi dan kambing. Menyebabkan infeksi sekunder pada ternak lainnya termasuk
manusia. Kerugian yang ditimbulkan antara lain abortus (keguguran) temporer maupun permanen,
kematian dini pedet baru lahir, gangguan reproduksi (infertilitas), penurunan produksi susu, dan
penurunan nilai jual susu dan sapi terinfeksi.

Dalam istilah lokal Brucellosis dikenal dengan nama penyakit kluron menular (Jawa), sakit burut (radang
testes), sakit sane (radang sendi).  Juga disebut Bang's disease, Contangio abortus, Enzootic
abortion, Slinking of the calf. Infeksi pada manusia disebut Undulant fever, Malta fever,
Bang's fever. Penularan pada manusia bisa terjadi akibat mengkonsumsi susu sapi segar
yang dihasilkan oleh hewan penderita. 

Brucellosis disebabkan oleh bakteri gram negatif Brucella abortus, yang tidak tahan
sinar matahari langsung, dan proses pasteurisasi. Sedangkan infeksi pada manusia dsebabkan
oleh Brucella miltensis yang bersifat lebih pathogen. Di Indonesia penyakit  ini pertama kali
ditemukan menyerang sapi di Grati Kabupaten pasuruan Jawa Timur pada tahun 1935.
pada tahun 1940 penyakit ini juga ditemukan di Sumatera Utara dan Aceh.

Bakteri Brucellosis dapat bertahan hidup selama 5 hari pada suhu kamar,  4 hari pada
sinar matahari langsung, 66 hari pada tempat yang lembab, 185 hari pada tempat
dingin, 114 hari dalam air minum, 150 hari pada air tercemar, 37 hari pada media kotoran
kering, 180 hari pada fetus abortus yang tidak terkena matahari langsung. Penyakit 
brucellosis pada sapi mempunyai masa inkubasi berkisar 2 minggu sampai 8 bulan.

Penularan penyakit Brucellosis berlangsung cepat. Penularan di antara sapi dapat berlangsung
melalui rute alat pencernaan, masuk ke sistem pembuluh darah, yang bermanifestasi
dalam alat reproduksi. Penyakit juga dapat ditularkan melalui peralatan atau benda-
benda yang terkontaminasi kuman seperti pakan, air minum, kandang dan peralatannya,
halaman, lantai kandang yang tersentuh dengan fetus abortus akibat Brucellosis
seperti placenta dan lochia dari uterus sapi penderita. 

Penularan bisa terjadi melalui coital, melalui kulit yang terluka dan selaput lendir mata.
Bahkan bisa melalui inseminasi buatan ontra uterina yang menggunakan semen
yang sudah tercemar kuman Brucellosis. 

Kuman Brucellosis abortus pada sapi yang menderita infeksi menahun bisa ditemukan
dalam kelenjar susu dan kelenjar limfe pada hewan betina, sedangkan pada hewan 
jantan kuman ditemukan dalam testes, epididymis, vasa deferentia dan kelenjar
vesicularis. Kuman Brucellosis masih dapat hidup di dalam sel-sel limfosit
yang sulit diberantas lewat praktek pengobatan karena molekul - molekul obat
sangat sulit menembus ke dalam sel limfosit.

Sapi yang menderita Brucellosis memperlihatkan gejala klinis seperti lesu, lemah, kurang
nafsu makan, kurus dengan gejala utama berupa abortus dengan atau tanpa retensio
seccundinae, diikuti keluarnya cairan bernanah dari alat kelamin. Sedangkan gejala
klinis yang diamati pada sapi jantan antara lain pembengkakan dan peradangan pada
alat kelamin dan terjadi kemajiran. Sapi perah mengalami mastitis yang diikuti penurunan
produksi susu secara drastis. 

Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah sanitasi lingkungan, peningkatan 
mutu manajemen peternakan, vaksinasi dan pemusnahan ternak reaktor. 
Pengawasan lalu lintas ternak antar pulau diperketat untuk mencegah penularan penyakit.  


Kembali ke  Home

Kembali ke Penyakit Ternak Besar


AGRITEKNO  PRIMANEKA
Big Small Agribusiness We Care
Central Java , fax 024.7605249 or tel 024.3511233